Selasa, 22 Januari 2013

perencanaan dan metode pembelajaran



KATA PENGANTAR



 


Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang  telah menciptakan langit dan bumi beserta isi keduanya. Dialah yang telah menganugrahkan Al-qur’an  sebagai  Hudan lin naas  dan rahmatan lil ‘alamin. Dialah yang  Maha  mengetahui makna dan maksud kandungan Alqur’an . Menjadikan Al-Quran sebagai pedoman bagi kita semua. Yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “PERENCANAAN METODE PEMBELAJARAN
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. Utusan dan manusia pilihan-Nya. Sebagai perintis ilmu bagi kita umat manusia.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


Banda Aceh,  Januari 2013

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii

BAB I: PENDAHULUAN................................................................................. 1
              A. Latar Belakang .................................................................................. 1

BAB II: PEMBAHASAN................................................................................... 3

 PERENCANAAN METODE PEMBELAJARAN ......  ..............     5

A.    Metode Mengajar dan Prinsip-Prinsip Belajar .........................     6
B.     Metode Mengajar Berkadar CBSA dan Keterampilan Proses..     7
C.  Dasar Pertimbngan  Pemilihan Metode Mengajar........................    8
D.    Pemilihan Metode Mengajar Berdampak Langsung dan Pengiring
.......................................................................................................... 9
E.     Macam-Macam Metode Interaksi Edukatif atau Mengajar.......... 10

BAB III: PENUTUP........................................................................................... 17
         A. Kesimpulan ....................................................................................... ..... 17

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 18






BAB I
PENDAHULUAN
               A.    Latar belakang masalah
Dalam hal pengajaran, metode mengajar itu sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik, karena dengan metode yang efektif dan tepat maka mata pelajaran yang akan disampaikan itu akan berjalan dengan lancar. Selain itu kelancaran materi ajar tergantung pada bagaimana seorang pendidik menerapkan materinya kepada anak didik serta bagaimana model/ cara memahamkan materi tersebut. Kebanyakan saat pelajaran akan dimulai dari sebagian anak didik ada yang tidak serius, gaduh, ada yang bermain-main dan lain sebagainya. Kadang pada waktu guru datang mengucapkan salam, maka anak didik menjawab dengan bermacam-macam, tetapi jelas di sini menunjukkan tidak adanya suasana belajar yang sungguh-sungguh.
Metode pengajaran dalam pendidikan agama Islam perlu mencakup pembinaan psikomotor, kognitif, afektif dan ketrampilan. Namun dalam bagian afektif inilah yang paling rumit dan sering dikeluhkan oleh para pendidik khususnya materi agama, karena menyangkut pembinaan rasa aman, dan rasa beragama.
               B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.  Apa saja metode yang cocok digunakan untuk menyampaikan materi terutama materi dalam pengajaran pendidikan agama Islam?
               C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui: metode-metode yang cocok digunakan untuk menyampaikan materi terutama materi dalam pengajaran pendidikan agama Islam agar lebih luwes dalam menyampaikan materi ajarnya. Dan untuk anak didik agar mudah memahami materi yang diajarkan oleh pendidiknya.


      BAB II
PEMBAHASAN
PERENCANAAN METODE PEMBELAJARAN
Para ahli menganggap metodologi pengajaran sebagai ilmu bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu bidang-bidang lain dalam proses pengajaran. Ia memang bersifat netral dan umum, tidak diwarnai oleh sutau bidang pun. Tetapi mengandung unsur-unsur inovatif, karena memberi alternatif lain yang dapat dipergunakan di dalam kelas. Karena itu ilmu-ilmu itu bersifat luwes. Penggunaannya didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:        
1.      Selalu berorientasi pada tujuan;
2.      Tidak hanya terikat pada satu alternatif saja;
3.      Kerap digunakan sebagai suatu kombinasi dari berbagai metode, serta
4.      Kerap dipergunakan berganti-ganti dari satu metode ke metode lainnya.
Untuk memilih metode mengajar tidak bisa semabarangan, banyak faktor yang mempengaruhinya dan patut dipertimbangkan.misalnya seperti yang dikemukakan oleh Winano Surakhman (1979) sebagai berikut:
a.       Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya.
b.      Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya.
c.       Situasi denagn berbagai keadaannya.
d.      Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya.
e.       Pribadi guru serta kemampuan profesinya yang berbeda-beda.
Karena banyaknya mata pelajaran maka tujuan untuk setiap mata pelajaran pun berbeda-beda pula. Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode untuk mencapai tujan tersebut. Pemilihan metode yang salah akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Guru jangan sesuka hati memilih metode, ia harus berpedoman pada tujuan pembelajaran.
A.    Metode Mengajar dan Prinsip-Prinsip Belajar
Hubungan metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar atau asas-asas belajar sangat erat. Kerelevansian metode mengajar denagn prinsip-prinsip belajar akan dapat membangkitkan gairah belajar anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Mansyur (1991: 45) mengatakan, bahwa metode mengajar erat kaitannya dengan prinsip-prisip belajar. Sebagai pendukung pendapatnya, dia mengemukakan rumusan sebagai berikut:
1.      Metode Mengajar dan Motivasi
Jika bahan pelajaran disajikan dengan menarik besar kemungkinan motivasi belajar anak didik akan semakin meningkat. Motivasi berhubungan erat dengan emosi, minat, dan kebutuhan anak didik.
Motivasi ada dua macam, yaitu motivasi yang datang dari dalam diri anak didik, disebut “motivasi intrinsik”, dan motivasi yang diakibatkan dari dalam diri anak didik, disebut “motivasi enstrinsik”. Motivasi dari dalam dapat dilakukan dengan mendorong rasa ingin tahu, keinginan mencoba, dan sikap mandiri anak didik.
2.      Metode Mengajar dan Aktivitas Anak Didik
Apabila dalam kegiatan interaksi edukatif terdapat keterlibatan intelek-emosional anak didik, biasanya intensitas keaktifan dan motivasi akan meningkat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif.
 Guru di dalam interaksi edukatif diharapkan bener-benar menerapkan aktifitas anak didik, yaitu belajar sambil bekerja (learning by doing).  Melkaukan aktifitas bekerja adalah bentuk pernyataan dari anak didik bahwa pada hakikatnya belajar adalah perubahan yang terjadi setelah melakukan aktifitas atau bekerja. Pada kelas- kelas rendah disekolah dasar, aktifaitaas itu dapat dilakukan sambil bermain. Seperti anak kelas satu dalam belajar abjad dan bagian-bagian tubuh dilakukan sambil bernyanyi.
Proses interkasi edukatif di atas menerapkan prinsip belajar sambil bermain. Kegiatan belajar akan lebih berhasil dalam situasi bermain, anak didik akan aktif, senang gembira, kreatif, serta tidak mengikat.
3.      Metode Mengajar dan Perbedaan Individual
Tidak tepat bila guru menyamakan semua anak didik. Seorang anak didik yang hasil belajarnya jelek dikatakan bodoh. Lalu semua anak diidk yang hasil belajarnya jelek dikatakan bodoh. Hal itu belum tentu. Mungkin disebabkan kesehatannya terganggu, tidak ada kesempatan untuk belajar, sarana belajar kurang, dan sebagainya.  Secara garis besar setiap anak didik mempunyai tipe  yang berbeda seperti tipe penglihatan (visual), tipe pendengaran (auditif), tipe perabaan (taktil), tipe gerakan (motorik), dan tipe campuran.
4.      Metode Mengajar dan Umpan Balik
Dalam proses interaksi edukatif di perlukan umpan balik, seperti:
a.       Umpan balik tentang kemampuan peserta latihan (seperti yang dilihat oleh peserta latihan lainnya, oleh pelatih dan oleh peserta itu sendiri).
b.      Umpan balik tentang daya serap.
5.      Metode Mengajar dan Pengalihan
Pendidikan dan latihan membantu anak didik untuk mengalihkan (trasfer) hasil belajarnya kedalam situasi-situasi yang nyata.
6.      Metode Mengajar dan Penyusunan Pemahaman yang Logis dan Psikologis
Metode-metode tertentu lebih serasi untuk memberikan informasi mengenai bahan pelajaran atau gagasan baru atau untuk menguraikan dan menjelaskan susunan suatu bidang yang luas dan kompleks.
B.     Metode Mengajar Berkadar CBSA dan Keterampilan Proses
Bagi guru perlu mempertimbangkan  kadar ke-CBSA-an suatu metode mengajar dan pendekatan yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Dalam pendiidkan dan pengajaran diakui, bahwa metode-metode mengajar mempunyai kadar ke-CBSA-an yang bervariasi, mulai drai kadar terendah hingga kadar tertinggi.
Berdasarkan perbedaan kadar ke-CBSA-an ini dapat diklafisikasikan pendekatan yang dilakukan dalam mengajar. Hal ini berarti bila guru memilih suatu metode, maka secara otomatis guru dituntut untuk memilih pendekatan yang diharaapkan secara efektif mendukung perencanaan yang ditunjukan oleh metode.

C.    Dasar Pertimbngan  Pemilihan Metode Mengajar
Ada beberapa faktor yang harus dijadikan dasar pertimbangan pemilihan metode mengajar. Diantaranya:
1.      Berpedoman pada Tujuan
Tujuan adalah keinginan yang hendak dicapai dalam setiap kegiatan interkasi edukatif. Tujuan mampu memberikan garis yang jelas dan pasti kemanaa kegiatan interaksi edukatif harus dibawa. Tujuan dapat memmberikan pedoman yang jelas bagi guru dalam mempersiapkan segala sesuatu dalam pengajaran, termasuk pemilihan metode.
2.      Perbedaan Individual Anak didik
Perbedaan individual anak didik perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode mangajar. Aspek-aspek perbedaan anaka didik yang perlu dipegang adalah aspek biologis, intelektual dan psikologis.
3.      Kemampuan Guru
Kemampuan guru bermacam-macam, disebabkan latar belakang pendidikan dan pengalaman belajar. Seorang guru dengan latar belakang  pendidikan keguruan akan lain kemampuannya dibandingkan dengan seseorang dengan latar belakang pendidikan bukan keguruan.
4.      Sifat Bahan Pelajaran
Setiap mata pelajaran mempunyai sifat masing-masing. Paling tidak sifat mata pelajaran mudah, sedang, dan sukar. Ketiga sifat ini tidak bisa diabaikan begitu saja dalam mempertimbangkan pemilihan metode mengajar.
5.      Situasi Kelas
Situasi kelas adalah sisi lain yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan guru ketika akan melakukan pilihan terhadap metode mengajar.
6.      Kelengkapan Fasilitas
Penggunaan metode perlu dukungan fasilitas. Fasilitas yang dipilih harus sesuai dengan karakteristik metode mengajar yang akan dipergunakan.
7.      Kelebihan dan Kelemahan Metode
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dua sisi ini perlu diperhatiakn guru. Jumlah anak didik di kelas dan kelengkapan fasilitas mempunyai andil tepat atau tidaknya suatu metode  dipergunakan  untuk membantu proses pengajaran.
D.    Pemilihan Metode Mengajar Berdampak Langsung dan Pengiring
Metode mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sia-sia, karena metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat dan dalam waktu yang relatif lama. Hasil yang dirasakan waktu dekat dikataakan sebagai dampak langsung (intructinal effects, efek intruksional atau tujuan intruksional). Sedangkan hassil yang dirasakan dalam waktu lama dikatakan sebagai dampak pengiring (nurturant effects, efek pengiring atau tujuan pengiring.
Dampak langsung adalah tujuan yang secara langsung akan dicapai melalui pelaksanaan program pengajaran yang dilaksanakan guru setelah selesai suatu pertemuan peristiwa interaksi edukatif. Hasil yang akan dicapai biasanya berkenaan dengan cognitif domain (pengetahuan) dan psychomotor domain (keterampilan). Kedua domain atau bidang itu dapat diukur secara konkret, pasti, dan karenanya dapat langsung dicapai ketika itu.
Dampak pengiring adalah hasil pengajaran yang tidak langsung dapat diukur dan tidak mesti dapat dicapai ketika berakhirnya suatu pertemuan peristiwa interaksi edukatif, tetapi hasilnya diharapkan dapat berpengaruh kepada anak didik dan dapat mengiring atau menyertai belakangan, memerlukan waktu, dan atau harapan pertemuan-pertemuan peristiwa interaksi edukatif selanjutnya.
Bbiasanya dampak pengiring ini berkenaan dengan affective domain (sikap dan nilai). Dengan demikian, dampak pengiring ini hasilnya berupa sikap dan nilai atau merupakan dimana anak didik dapat meniru (modelling), tertulari (contagion), dan dirembesi ( osmosisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari kondidsi belajar, yang diprogramkan oleh guru maupun yang tidak diprogramkan oleh guru.

E.     Macam-Macam Metode Interaksi Edukatif atau Mengajar
1.      Metode Proyek
Metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masaalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahanya secara keseluruhan dan bermakna.
Metode proyek adalah suatu cra mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajarannya. Bertujuan agar anak didik tertarik untuk belajar.
Prinsip metode proyek adalah membahas suatu unit bahan pelajaran, ditinjau dari mata pelajaran lain.
a.       Kelemahan Metode Proyek
1.      Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan;
2.      Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Kekurangan Metode Proyek
1.      Kurikulum yang berlaku dinegara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksaan metode ini.
2.      Organisasi bahan pelajaran, perencanaan dan pelaksaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru sedangkan para guru belum disiapkan untuk ini.
3.      Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak didik, cukup fasilitas dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan; dan
4.      Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
2.      Metode Eksprimen
Metode eksprimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau perkelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. [1]Metode eksprimen langsung melibatkan para siswa melakukan percobaan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan yang diajukan.[2]
3.      Metode Pemberian Tugas dan Retasi
Pemberian tugas dengan arti guru menyuruh anak didik misalnya membaca, tetapi dengan menambah tugas-tugas seperti dengan mencari dan membaca buku-buku lain sebagai perbandingan. Dengan demikian pemberian tugas adalah suatu pekerjaan yang harus anak didik selesaikan tanpa terikat dengan tempat.
Pemberian tugas belajar biasanya dikaitkan dengan resitasi. Resitasi adalah suatu persoalan yang bergayut dengan masalah pelaporan anak didik setelah mereka selesai melakukan suatu tugas.
4.       Metode Diskusi
Metode diskusi pada dasanya adalh bertukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengerftian bersama yang lebih jelas dan lebih cermat tentang permasalahan atau topik yang sedang dibahas[3].
Diskusi adalah memberikan alternatif jawaban untuk membantu meemcahkan berbagai problem kehidupan. Dengan catatan persoalan yang didiskusikan harus secara mendalam. Dalam diskusi guru menyuruh anak diidk memilih jawaban yang tepat dari banayk kemungkinan alternatif jawaban[4].
5.      Metode Bermain Peran
Metode bermain peran ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan oleh anak didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dengan kegiatan memerankan ini akan memebuat anak didik lebig meresapi perolehannya.
6.      Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama adalah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peranan tertentu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (kehidupan sosial).
7.      Metode Demonstrasi
Demonstrasi adalah suatu metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Metode ini menghendaki guru lebih aktif daripada anak didik. Karena memang gurulah yang memperlihatkan sesuatu kepada anak didik.
8.      Metode Karyawisata
Metode karyawisata adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran oleh para anak didik dengan jalan membawa mereka langsung berhadapan degan objek di luar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati atau memahami secara langsung.
9.      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini antara lain dapat dikembangkan keterampilan mengamati, menginterpretasi, mengklassifikasikan, membuat kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
10.   Metode Latihan
Metode latihan disebut juga metode training, yaitu suatu cara mengajar untuk menanamkan kebiasan-kebiasaan tertentu. Juga, sebagai sarana untuk memelihara kebiasan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk memperolah suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
11.   Metode Bercerita
                  Metode bercerita adalah suatu cara mengajar dengan bercerita. Pada hakikatnya metode bercerita sama dengan metode ceramah. Karena informasi disampaikan melaului penuturan atau penjelasanlisan dari seseorang kepada orang lain.[5]
12.   Metode problem solving
Adalah cara mengajar yang dilakukan dengan jalan melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau bersama-sama.[6] Adapun model pemecahan masalah yang ditawarkan oleh John Dewey adalah:
         1.    Merumuskan masalah;
         2.    Menelaah masalah;
         3.   Merumuskan hipotesis;
                  4.   Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis;
         5.    Pembuktian hipotesis;
         6.    Menetukan pilihan penyelesaian.
Sedangkan menurut David Johnson dan Johnson adalah:
         1.    Mendefinisikan masalah
         2.     Mendiagnosis masalah
         3.      Merumuskan alternatif strategi
         4.      Menentukan dan menerapkan strategi
         5.      Mengevaluasi keberhasilan strategi.[7]
Selain metode-motode yang telah dijelaskan diatas ada juga metode-metode pengajaran yang lebih bersifat kepada PAI. Walaupun demikian, Pendidikan Agama Islam proses pembelajarannya tidak terlepas dari metode-metode yang umum yang telah dijelaskan diatas.
Adapun metode-metode pengajaran yang sifatnya lebih kepada Pendidikan Agama Islam, diantaranya adalah sebagai berikut:
                1.      Metode Mutual Education
Adalah suatu metode mendidik secara kelompok seperti yang dicontohkan  oleh Nabi SAW, misalnya praktek sholat berjama’ah.
                       2.      Metode Pendidikan Dengan Cara Instruksional
Adalah mengajarkan tentang ciri-ciri orang yang beriman dalam bersikap dan bertingkah laku agar mereka dapat mengetahui bagaimana seharusnya mereka bersikap dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari.



                       3.      Metode Bercerita
Adalah mengisahkan peristiwa atau sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatan dan kemungkarannya dalam hidup terhadap perintah Tuhan yang dibawakan oleh Nabi SAW yang hadir ditengah-tengah mereka.
                       4.      Metode Bimbingan Dan Penyuluhan
Adalah dimana manusia akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan hidup  yang dihadapi atas dasar iman dan taqwanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
                       5.      Metode Pemberian, Contoh, Atau Teladan
Dimana Allah menunjukkan contoh keteladan dari kehidupan Nabi  Muhammad SAW yang mengandung nilai paedagogis bagi manusia. Selain itu anak didik cenderung meneladani pendidiknya dan secara paedagogis anak memang senang meniru baik itu yang baik maupun yang buruk.
                       7.      Metode Imstal/Perumpamaan
Metode ini digunakan untuk menyampaikan materi tentang kekuasaan Tuhan dalam menciptakan hal-hal yang haq dan yang bathil. Contoh perumpamaan: “orang-orang yang berlindung kepada selain Allah SWT adalah seperti laba-laba yang membuat rumah”. Padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba.
                       8.    Metode Targhib Dan Tarhib
Targhib adalah janji terhadap kesenangan dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Sedangkan tarhib adalah ancaman karena dosa yang dilakukan. Hal ini tidak sama dengan metode ganjaran dan hukuman, adapun perbedaannya adalah:
No
Targhib dan Tarhib
Ganjaran dan hukuman
1
Lebih teguh
Bersandar pada dunia
2
Mengandung aspek iman
Tidak mengandung aspek iman
3
Secara operasional mudah dilaksanakan
Harus ditemukan sendiri oleh guru
4
Lebih universal, karena bagi siapa dan kapan saja
Disesuaikan orang dan tempat tertentu
5
Lebih lemah kedudukannya.
Lebih nyata

                       10.  Metode Taubat Dan Ampunan
Cara membangkitkan jiwa dari rasa frustasi kepada kesegaran hidup dan optimisme dalam belajar seseorang, dengan memberikan kesempatan bertaubat dari kesalahan/kekeliruan yang telah lampau yang diikuti dengan pengampunan atas dosa dan kesalahan. Dengan cara ini orang akan mengalami katarisasi (pembersihan batin) sehingga memungkinkan timbulnya sikap dan perasaan mampu untuk berbuat yang lebih baik dan diiringi dengan sikap optimisme dan harapan hidup dimasa depan.[8]









KESIMPULAN
            Metode merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses belajar-mengajar. Tanpa metode proses belajar mengajar tidak akan terjadi. Meskipun terkadang ada lembaga pendidikan yang  menggunakan metode yang tidak tepat dalam pengajaran, atau tidak sesuai sebagaimana yang dibutuhkan anak didik. Akan tetapi metode tetap menjadi komponen terpenting dalam pengajaran.
            Seorang guru/pendidik harus profesional dalam memilih metode pengajaran. Guru tidak boleh mengajar hanya berpaku kepada satu metode, akan tetapi harus memiliki banyak metode yang bervariasi. Agar proses belajar mengajar tidak menoton, tidak membosankan, sehingga anak didik  mudah menerima pelajaran atau materi yang disampaikan oleh guru.
Seorang guru sangat tidak tepat apabila menyamakan kemampuan anak didik. Artinya, ketika memilih metode pembelajaran  guru tidak boleh memilih metode yang dibutuhkan oleh seorang anak didik saja, atau hanya bisa diterima oleh sabagian kecil, akan tetapi metode yang dipakai itu sesuai dengan kebutuhan anak didik dalam katagori banyak, bukan dalam jumlah sedikit. Karena sangat tidak adil apabila seorang guru hanya mementingkan jumlah yang kecil. Sementara yang lainnya tidak mengerti. Secara garis besar setiap anak didik mempunyai tipe  yang berbeda seperti tipe penglihatan (visual), tipe pendengaran (auditif), tipe perabaan (taktil), tipe gerakan (motorik), dan tipe campuran.
            Seperti yang telah dijelaskan diatas, banyak sekali metode pembelajaran yang bisa digunakan guru dalam penyampaian materi belajar.
 Dalam memilih metode pembelajaran ada beberapa  faktor yang harus dieprtimbangkan, yaitu, sebagai berikut:
a.       Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya.
b.      Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya.
c.       Situasi denagn berbagai keadaannya.
d.      Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya.
e.       Pribadi guru serta kemampuan profesinya yang berbeda-beda.


REFERENSI
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, cetakan pertama, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.
Ibrahim Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, cetakan kedua, Jakarta:  Rineka Cipta, 2003.
Alimpandie, Imansyah. Didaktik Metodik,  Surabaya: Usaha Nasional, tt.
Gulo, W. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grasindo, 2004.
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam II. Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.








[1] Syaiful Bahri djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, cet.pertama, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 197
[2]  Ibrahim Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, cetakan kedua, (Jakarta, Rineka Cipta: 2003), hal. 107.
[3] Ibrahim Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran,... hal. 106.
[4] Syaiful Bahri djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif,... hal. 198.
[5] Ibid,.. hal. 204
[6] Imansyah Alipandie, Didaktik Metodik, (Surabaya: Usaha Nasional, tt), hal. 105.

[7] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2004), hal.115.


[8] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), hal. 110.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar