Jumat, 25 Januari 2013

metode bermain peran



METODE BERMAIN  PERAN ( ROLE PLAYING )

D
I
S
U
S
U
N

Oleh :
  

REZA JUANDA                                (211020418)








 
FAKULTAS TARBIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AR-RANIRY
BANDA ACEH
2013

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalam mu’alaikum wr.wb.
           Segala puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT karena dengan  karunia–Nya yang telah membimbing manusia dengan petunjuk-petunjuk-Nya, ssebagaimana terkandung dalam Al-qur’an dan Al-hadis, petunjuk menuju kejalan yang lurus dan jalan yang ridhoi-Nya dan penulis bersyukur kepada-Nya yang telah memudahkan penulis dalam menyelesaikan makalah perencanaan Sistem PAI yang berjudul . ( Metode Bermain Peran ).
        Shalawat beserta salam dihantarkan kejunjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raganya dan lainnya untuk tegaknya syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
        Adapun sebab pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam mata kuliah Perencanaan Sistem Pai. saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan dan kekurangan yang perlu disempurnakan, karena terbatasnya ilmu yang saya miliki. Namun demikian kami telah berupaya semaksimal mungkin.
        Harapan saya laporan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukan. Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa mendatang.
Wassalam mu’alaikum wr.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................          i
DAFTAR ISI.........................................................................................          ii

BAB I    : PENDAHULUAN...............................................................          1

BAB II   : PEMBAHASAN..................................................................          2
              
A. Pengertian Metodelogi pembelajaran ..............................          2

B. Pengertian Metode Saling Peran......................................          5

C. Prinsip-prinsip metode Saling Peran ................................          6

D. Kelemahan dan kelebihan Metode Saling Peran .............          9

E. Tujuan Metode Saling Peran ............................................          13
    
             
BAB III  : PENUTUP...........................................................................          15

A.    Kesimpulan .................................................................................          15

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………….           16    



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kenyataan sehari – hari sering kita jumpai sejumlah guru yang menggunakan metode tertentu yang kurang atau tidak cocok dengan isi dan tujuan pengajaran. Akibatnya, hasilnya tidak memadai, bahkan mungkin merugikan semua pihak terutama pihak siswa dan keluarganya, walaupun kebanyakan mereka tidak menyadari hal itu. Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, guru sebaiknya menentukan pendekatan dan metode yang akan digunakan sebelum melakukan proses belajar mengajar. Pemilihan suatu pendekatan dan metode tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi objek pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna.
Dalam dunia pendidikan, kita banyak mengenal berbagai macam ragam metode pengajaran,salah satunya metode sosiodarma dan bermain peran.Memang untuk mrncapai tujuan pendidikan dengan baik guru dituntut agar menguasai metode-metode pengajaran,sehingga selain tercapainya tujuan,siswa dapat menerima,mencerna,paham dan mengerti pelajaran yang di ajarkan.
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing,namun yang penting untuk diperhatikan oleh seorang guru,adalah ketepatan dalam memilih,menentukan mana diantara metode-metode itu yang lebih tepat dan cocok diterapkan dalam situasi pengajaran,serta kemampuan mengkombinasikan metode-metode yang telah di tetapkan itu secara harmonis dan serasi. Dengan kata lain untuk menyaajikan pengajaran yang lebih menarik perhatian/minat bagi anak didik,antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya amatlah diperlukan dengan metode yang berbeda,bahkan diantara bahan-bahan materi tertentupun memerlukan metode yang berlainan,meskipun masih di dalam satu bedang studi tertentu.

Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam memebelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap metode mengajar  memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam membentuk pengalaman balajar siswa, tetapi satu dengan yang lainnya saling menunjang.
Dalam kegiatan belajar ini akan dikemukakan tantang konsep, karakteristik, prosedur, keterbatasan, dan keunggulan metode mengajar simulasi yang mungkin banyak digunakan oleh guru.
Penggunaan metode mengajar yang didasarkan pada pembentukan kemampuan siswa, seperti memiliki kreativitas. Setiap metode mengajar memiliki keunggulan dan kekurangan sehingga hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih metode tersebut. Kelemahan-kelemahan metode harus diantisipasi dan dikaji oleh guru agar penggunaannya dapat efektif.
            bermain peran menekankan pada kenyataan di mana siswa diturutsertakan dalam memainkan peranan di dalam mendramatisasikan masalah-masalah dalam hubungan sosial. Tujuan dari sosiodrama dan bermain peran antara lain: (1) mengerti perasaan orang lain, (2) membagi pertanggungjawaban dan memikulnya, (3) menghargai pendapat orang lain, (4) mengambil keputusan dalam kelompok.











BAB II
PEMBAHASAN


Metode Bermain Peran ( Role Playing )
1.      Pengertian Metodologi Pengajaran
Lukman Ali (1995 : 653) menjelaskan bahwa metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Mengutip pendapat dari Sudjana (2000 : 76) yang mengemukakan bahwa cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh keran itu peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatanbelajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik jika siswa banyak yang aktif dibandingkan dengan guru oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. Proses belajar mengajar yang baik dapat menggunakan berbagai jenis metode mengajar secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. masing-masing metode ada kelemahan serta kelebihannya. Tugas guru adalah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sangat bergantung kepada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar. Ditinjau dari segi penerapannya, metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah yang besar dan ada yang tepat untuk siswa dalam jumlah yang kecil. Ada juga yang tepat digunakan di dalam kelas atau di luar kelas.
Subari (1994 : 73) mengatakan metodologi pengajaran merupakan cabang dari didaktif atau ilmu mengajar, oleh karena itu sering juga metodologi pengajarn disebut didaktik khusus. Kata metodologi dibentuk dari dua kata yaitu “methodos” yang artinya “jalan ke” sedangkan “logos” berarti “ilmu”. Karena itu metodologi pengajaran dapat diartikan suatu ilmu yang memberikan jalan menuju ke terjadinya proses belajar mengajar. Secara umum didaktik khusus atau metologi pengajaran adalah bagian ilmu mengajar yang membicarakan berbagai metode mengajar dan sistem penyampaian bah[1]an pengajaran untuk semua bidang pengajaran serta cara mengajarkan atau menyampaikan bidang pengajaran tertentu.
Lain halnya dengan pendapat dari Sudjana (1989 : 86), dalam metode mengajar lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemecahan masalah belajar. Interaksi sosial siswa terjadi dalam kelompoknya dan antara kelompok, oleh karena itu dalam metode mengajar kelas harus di bagi atas dasar pertimbangan-pertimbangan tertentu.

2.      Pengertian Bermain Peran ( Role Playing )
            Pengertian bermain peran adalah salah satu bentuk pembelajaran, dimana peserta didik ikut terlibat aktif memainkan peran-peran tertentu. Bermain pada anak merupakan salah satu sarana untuk belajar. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang kaya, baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya.
            Bermain merupakan bagian terbesar dalam kehidupan anak-anak untuk dapat belajar mengenal dan mengembangkan keterampilan sosial dan fisik, mengatasi situasi dalam kondisi sedang terjadi konflik. Secara umum bermain sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan dan dalam suasana riang gembira. Dengan bermain berkelompok anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan yang dimilikinya sehingga dapat membantu pembentukkan konsep diri yang positif, pengelolaan emosi yang baik, memiliki rasa empati yang tinggi, memiliki kendali diri yang bagus, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
            Bermain peran (role playing) merupakan sebuah permainan di mana para pemain memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama. Para pemain memilih aksi tokoh-tokoh mereka berdasarkan karakteristik tokoh tersebut, dan keberhasilan aksi mereka tergantung dari sistem peraturan permainan yang telah ditetapkan dan ditentukan, asalkan tetap mengikuti peraturan yang ditetapkan, para pemain bisa berimprovisasi membentuk arah dan hasil akhir permaian.
            Santrock (1995: 272) menyatakan bermain peran (role play) ialah suatu kegiatan yang menyenangkan. Secara lebih lanjut bermain peran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan. Role playing merupakan suatu metode bimbingan dan konseling kelompok yang dilakukan secara sadar dan diskusi tentang peran dalam kelompok. Di dalam kelas, suatu masalah diperagakan secara singkat sehingga siswa dapat mengenali karakter tokoh seperti apa yang siswa peragakan tersebut atau yang menjadi lawan mainnya memiliki atau kebagian peran seperti apa. Santrock juga menyatakan bermain peran memungkinkan anak mengatasi frustrasi dan merupakan suatu medium bagi ahli terapi untuk menganalisis konflik-konflik anak dan cara-cara mereka mengatasinya.
            Ginnot (1961; dalam Eka, 2008) menyatakan bermain peran diyakini sebagai sarana perkembangan potensi juga dapat dijadikan sebagai media terapi. Terapi bermain peran khususnya merupakan pendekatan yang sesuai untuk melakukan konseling dengan anak karena bermain adalah hal yang alami bagi anak. Melalui manipulasi mainan, anak dapat menunjukkan bagaimana perasaan mengenai dirinya, orang-orang yang penting serta peristiwa dalam hidupnya secara lebih memadai daripada melalui kata-kata.
            Ginnot (1961; dalam Eka, 2008) menegaskan bahwa bermain peran merupakan seperangkat prosedur yang digunakan untuk melakukan konseling dengan anak melalui penggunaan secara sistematis dari metode bermain, permainan, dan alat permainan.
            Van Fleet (2001) menyatakan bermain peran merupakan intervensi yang dikembangkan yang berkaitan dengan penggunaan sistematis dari metode bermain oleh seorang konselor untuk membawa peningkatan dalam kemampuan siswa sampai penampilan yang optimal di sekolah. Bermain peran juga meliputi penggunaan bermain secara sistematis untuk mengatasi kesulitan-kesulitan anak, mengembangkan pola perilaku adaptif, mengendalikan diri siswa yang agresifnya tinggi, meningkatkan kemampuan berempati, dapat mengelola emosi, dapat menjadi individu yang bertanggung jawab, memiliki interpersonal skill yang bagus dan dapat memecahkan masalah secara efektif dan bijaksana.

            Corsini (1996), (Tatiek, 1989) menyatakan bahwa bermain peran dapat digunakan sebagai alat untuk mendiagnosis dan mengerti seseorang dengan cara mengamati perilakunya waktu memerankan dengan spontan situasi-situasi atau kejadian yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Selain itu teknik bermain peran dapat digunakan sebagai media pengajaran melalui proses modeling anggota kelompok dapat belajar lebih efektif keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan interpersonal, dengan mengamati berbagai macam cara dalam memecahkan masalah.
            Kenneth (Sumber Lead Sabda) menyatakan bahwa teknik bermain peran (role playing) merupakan teknik psikoterapi tahun 1930-an. Role playing yang dapat membawa perubahan perilaku yang tidak baik menjadi baik dan terarah.
            Mulyasa (2004; dalam Asriyanti 2011) menyatakan empat asumsi yang mendasari teknik bermain peran (role playing) dapat mengembangkan perilaku yang baik dan nilai-nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya.
Sudjana (1989 : 61) menyatakan bermain peran / sosio drama adalah sandiwara tanpa naskah, tanpa latihan lebih dulu sehingga dilakukan secara spontan, masalah yang didramakan adalah mengenai situasi sosial.
Hamalik (2006 : 214) menjelaskan bahwa pengajaran berdasarkan pengalaman lainnya adalah bermain peran karena pada umumnya siswa menyenangi penggunaan strategi ini karena berkenaan dengan isu-isu sosial dan kesempatan komunikasi interpersonal di dalam kelas. Di dalam bermain, peran guru menerima petan noninterpersonal di dlam kela, siswa menerima karakter, perasaan, dan ide-ide orang lain dalam situasi yang khusus.
Sudjana (2000 : 90), sosiodrama adalah bermain peranan yang ditujukan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah sosial.
Metode sosio drama dan bermain peran merupakan salah satu metode dalam kegiatan belajar. Metode adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Makin baik metode itu, makin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan apakah suatu metode dapat disbeut baik, diperlukan patokan yang bersumber dari beberapa faktor (Surakhmad, 1986 : 75).
Lain halnya dengan Subari (1994 : 93) yang menjelaskan bahwa metode sosiodrama atau bermain peran adalah mendramatisasi cara bertingkah laku di dalam hubungan sosial dan menekankan penghayatan di mana para siswa turut serta dalam memainkan peranan di dalam mendramatisasikan masalah-masalah sosial.

Jadi dapat diambil kesimpulan Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
            Dalam metode bermain peran unsul yang menonjol adalah unsur hubungan sosial, dalam bermain peran menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu misalnya sebagai pahlawan, petani, dokter, guru, sopir, dan sebagainya (Semiawan, 1993 : 82).
Menurut pendapat dari Shaftel dalam Rianto (2000 : 107) menyatakan bahwa metode bermain peran diartikan sebagai suatu metode pemecahan masalah yang melibatkan dua orang atau lebih untuk mengambil keputusan secara terbbuka dalam situasi yang dilematis. Pemeranan diakhiri pada saat mencapai titik dilema dan masing-masing pemeran bebas menganalisa apa yang terjadi melalui diskusi yang melibatkan para pengamat untuk mencari pemecahannya.
Sosiodrama adalah suatu kelompok yang bertindak memecahkan masalah terutama pemecahan masalah yang berkenaan dengan hubungan antar insani. Masalah itu dapat dihubungkan dengan kerja sama siswa di sekolah, keluarga, atau di masyarakat umumnya. Sosiodrama memberikan kesematan kepada para siswa untuk menyelidiki alternatif pemecahan masalah yang berkenaan dengan keluarga (Hamalik, 2002 : 138).
Oktaviani (2008) menyatakan lima pengertian bermain di antaranya:
  1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak.
  2. Bermain tidak memiliki tujuan ekstrinsik namun motivasinya lebih bersifat intrinsik.
  3. Bersifat spontan dan sukarela tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak.
  4. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak.
  5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti misalnya: kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial, dan sebagainya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa bermain peran / sosiodrama adalah suatu metode dengan cara memainkan suatu peran yang menekankan penghayatan di mana para siswa turut serta dalam memainkan peranan di dalam mendramatisasikan masalah-masalah sosial.

3.          Penerapan Metode Sosiodrama dan Bermain Peran
Sebelum menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama/Bermain peran (Role Playing), guru hendaknya menyusun skenario sesuai kebutuhan. Mengacu pada Rencana Proses Pembelajaran dan Silabus yang telah disusun. Hal ini perlu agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan menarik, mencapai sasaran dan tidak melebihi alokasi waktu yang ditentukan.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam menerapkan metode pembelajaran Bermain peran/Sosiodrama (Role Playing) antara lain:
1)      Bila metode sosiodrama baru diterapkan dalam pengajaran, maka hendaknya guru menerangkannya terlebih dahulu teknik pelaksanaannya, dan menentukan diantara siswa yang tepat untuk memerankan tokoh-tokoh tertentu, kemudian secara sederhana dimainkan di depan kelas.
2)     Menerapkan situasi dan masalah yang akan dimainkan dan perlu juga diceritakan jalannya peristiwa dan latar belakang cerita yang akan diperankan tersebut sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
3)     Pengaturan adegan dan kesiapan mental dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga benar-benar bisa membangun interaksi yang lebih menarik.
4)     Setelah sosiodrama itu dalam puncak klimas, maka guru dapat menghentikan jalannya drama. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat diselesaikan secara umum, sehingga penonton (siswa yang mengamati) ada kesempatan untuk berpendapat dan menilai sosiodrama yang dimainkan. Sosiodrama dapat pula dihentikan bila menemui jalan buntu.
5)     Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan komentar, kesimpulan atau berupa catatan kesesuaian jalannya sosiodrama dengan materi yang sedang dibicarakan.
6)     Guru menerima semua masukan, dari siswa dan memberikan simpulan yang tepat dari pengilustrasian materi melalui metode sosiodrama tersebut.
7)     Menyelaraskan pemahaman konsep yang dijelaskan dalam pemecahan masalah/soal yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

                        Setelah kegiatan selesai, guru bisa memberikan contoh soal yang harus diselesaikan dengan menggunakan konsep seperti yang telah diperagakan oleh siswa melalui metode sosiodrama tersebut. Untuk selanjutnya bisa dievaluasi apakah metode tersebut berhasil atau belum yang indikasinya bisa dilihat melalui kemampuan pengintegrasian konsep yang diperagakan ke dalam masalah/soal yang harus diselesaikan.


4.      Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Metode Pembelajaran Bermain peran
Prinsip dasar metode pembelajaran bermain peran yaitu :
a. Menurut Nur (200); prinsip dasar dalam pembelajaran bermain sebagai berikut: Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota adalah tim.
c. Kelompok mempunyai tujuan yang sama.
d. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
f. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok bermain.
Sedangkan ciri-ciri metode pembelajaran bermain peran adalah sebagai berikut :
a) Siswa dalam kelompok secara bermain menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
c) Penghargaan
lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.

5.      Karakteristik dan Asumsi dalam Metode Bermain Peran
Terdapat lima karakteristik bermain peran, yaitu:
  1. Merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak.
  2. Didasari motivasi yang muncul dari dalam. Jadi anak melakukan kegiatan itu atas kemauannya sendiri.
  3. Sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak merasa bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya.
  4. Senantiasa melibatkan peran aktif dari anak, baik secara fisik maupun mental.
  5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreatif, memecahkan masalah, kemampian berbahasa, kemampuan memperoleh teman sebanyak mungkin dan sebagainya.
Asumsi tersebut sebagai antara lain:
  1. Bermain peran dilaksanakan berdasarkan pengalaman siswa dan isi dari pelaksanaan teknik ini yaitu pada situasi “disini pada saat ini”.
  2. Bermain peran memungkinkan siswa untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaannya untuk mengurangi beban emosional.
  3. Teknik bermain peran ini berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, para siswa dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, siswa belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan u[5]ntuk mengembangkan dirinya secara lebih optimal lagi.
  4. Teknik bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui
6.      Kelebihan dan kekurangan metode role playing
            Seperti metode-metode pembelajaran yang lain, metode pembelajaran Sosiodrama/Bermain Peranan (Role Playing) juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Maksudnya, tidak semua materi bisa menjadi lebih baik bila menggunakan metode ini, akan tetapi harus dipilih dengan teliti oleh guru pengampu, mana yang baik menggunakan metode ini dan mana yang tidak. Berikut saya sampaikan beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran sosiodrama/bermain peran (Role Playing).
Kelebihannya:
a) Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan diperankan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
b) Siswa akan berlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu bermain peran para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
c) Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah.
d) Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaikbaiknya.
e) Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.
f) Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang lebih baik agar mudah dipahami orang lain.
Kekurangannya:
a) Sebagian anak yang tidak ikut bermain peran menjadi kurang aktif.
b) Banyak memakan waktu.
c) Memerlukan tempat yang cukup luas.
d) Sering kelas lain merasa terganggu oleh suara para pemain dan tepuk tangan       penonton/pengamat.

7.      Cara-cara mengatasi kelemahan – kelemahan Metode bermain peran
  • Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari metode sosiodrama antara lain ialah :
  • Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan metode ini, bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada di masyarakat kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang akan berperan masing-masing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tigas tertentu
  • Guru harus memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat anak. Ia mampu menjelaskan dengan baik dan menarik sehingga siswa terangsang untuk berusaha memecahkan masalah itu.
  • Agar siswa memahami peristiwanya maka guru harus bisa menceritakan sambil mengatur adegan yang pertama.
  • Bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Oleh karena itu harus diusahakan agar para pemain berbicara dan melakukan gerakan jangan sampai banyak variasi yang kurang berguna.

8.      Tujuan Metode Bermain Peran ( Role Playing )
Ali (2000 : 84) menyatakan bahwa tujuan bermain peran adalah menggambarkan suatu peristiwa masa alampau atau dapat pula cerita dimulai dengan bebagai kemungkinan yang terjadi baik kini maupun mendatang kemudian ditunjuk beberapa siswa untuk melakukan peran sesuai dengan tujuan cerita. Pemeran melakukan sendiri peranannya sesuai dengan daya imajinasi tentang pokok yang diperankannya.
Mengutip pendapat dari Subari (1994 : 93) yang menjelaskan tujuan bermain peran adalah :
  1. Memahami peran orang lain.
  2. Membagi tanggung jawab dan melaksanakannya.
  3. Menghargai penghayatan orang lain,
  4. Terlatih mengambil keputusan.
Sudjana (1989 : 90) mengemukakan bahwa tujuan bermain peran adalah:
  1. Agar siswa dapat menghayati perasaan orang lain.
  2. Dapat belajar sebagaimana membagi tanggung jawab.
  3. Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
  4. Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Lain halnya dengan Hamalik (2002 : 138) yang mengatakan bahwa tujuan bermain peran adalah menciptakan kembali gambaran historis masa silam, peristiwa yang mungkin terjadi pada masa mendatang, peristiwa-peristiwa sekarang yang berarti atau situasi-situasi bayangan pada suatu tempat dan waktu tertentu.
Sudjana (2000 : 90) menjelaskan bahwa tujuan bermain peran adalah agar siswa dapat menghargai dan menghayati perasan orang lain, memupuk rasa tanggung jawab pada diri siswa.


[6].

BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
                  Bermain sangatlah banyak manfaatnya, karena masa anak-anak merupakan masa bermain, seorang guru yang tahu kalau dunia anak adalah dunia bermain, maka guru yang profesional akan memasukkan pembelajaran sedikit demi sedikit melalui bermain, sesuai dengan konsep ketika yaitu belajar sambil bermain, bermain seraya berlajar ( preschool ) .
                  Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilan bermain sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
                  Dalam pembelajaran bermain dikembangakan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain.

B.     SARAN
            Agar kegiatan belajar mengajar berjalan efektif , maka guru harus mampu memilih metode mengajar yang paling sesuai. Proses pembelajaran akan efektif jika berlangsung dalam situasi dan kondisi yang kondusif, hangat, menarik, menyenangkan, dan wajar. Oleh karena itu guru perlu memahami berbagai metode mengajar dengan berbagai karakteristiknya, sehingga mampu memilih metode yang tepat dan mampu menggunakan metode  mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan maupun kompetensi yang diharapkan.









DAFTAR PUSTAKA

Arikunto; Sukardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Charin, Arthur. 1993. Theaching Science Through Discovery. New York: Mcmilan Publishing Company.
Dahar. 1996. Konstruktivisme dalam Pendidikan Bahasa Indonesia. Makalah dalam forum komunikasi integrasi vertikal pendidikan sains di cisarua bogor.
Depdiknas. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Depdiknas.
Oemar Hamalik. 2004. Media Pendidikan. Bandung: PT Citra Aditya Bhakti.
Helen. 2003. Belajar Aktif dan Terpadu. Surabaya: Duta Graha Pustaka.
Hernawan. 2007. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
Kemmis & Mc. Taggart. 1994. The Action Research Planner. Geelong: Deaken University Press.
Mc Niff. 1991. Action Research: Principle an Practice. London: Macmilan.
Mikarsa. Pendidikan Anak SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Purwadarminta. 2000. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka.
Ristasa. 2009. Perspektif Pendidikan Bahasa Indonesia. Hand Out Pembimbingan TAP di UPBJJ Purwokert














[1]  Ristasa, Perspekti pendidikan, ( Bandung: Pt remaja rosdaskarya), 2009, hal. 43-45


[2] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta : Rineka Cipta. 2007), Hal. 20-22

[3] Dirdjosoemarto dkk., Strategi Belajar Mengajar,  (Bandung : Remaja Rosda Karya.2008), hal. 50-56


[4] Harjanto,  Perencanaan Pengajaran, (Surabaya:Rineka Cipta.2007), Hal. 102-104
[5] Imansyah Alipandie, Didaktik Metodik, (Surabaya: Usaha Nasional, tt), hal. 120-122
[6] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2004), hal.144-145

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar